Meletakkan Teori Representasi Sosial dalam upaya
mencari ruang berpengetahuan di negeri sendiri

Indonesia selalu bisa diletakkan sebagai negara paling plural yang ada di belahan bumi ini. Terdiri dari lebih 17.000 pulau, dengan lebih dari 600 bahasa yang berbeda dan beragam suku dengan berbagai adat dan kebiasaan yang membentang pada seluruh wilayah Nusantara, maka Indonesia mewakili pengertian yang paling radikal dari pluralitas yang mungkin didefinisikan oleh sebuah negara, dan oleh sebuah bangsa. Oleh sebab itu selalu dengan mudah kita tertipu oleh bayangan identitas kenegaraan dan kebangsaan yang tunggal karena pengetahuan yang kita miliki untuk memahami pluralitas masyarakat Indonesia selalu dikaburkan oleh satu rujukan tunggal: Modernisasi dan Pembangunan.

Masalahnya rujukan tersebut sebagai sebuah langkah berpengetahuan, bukan sesuatu yang asing apalagi sesuatu yang salah pada periode tahun 60an hingga akhir abad 20 yang silam untuk Indonesia sebagai bagian dari gerak negara dunia ketiga. Tanpa bisa dihindari, ekonomi dan politik kemudian menjadi tumpuan utama, karena memang model dari Modernisasi dan Pembangunan yang diambil dari keberhasilan negara-negara dunia pertama dan kedua, memakai dua bidang tersebut sebagai motor pertumbuhan masyarakatnya. Berpusatnya ruang kehidupan bersama sebagai bangsa pada kedua sektor tersebut, dengan sendirinya mengabaikan amatan kita pada kemampuan sektor lain yang tetap bertumbuh lengkap dengan kesulitan atau bahkan kemudahan masing-masing.

Dengan berubahnya gerak masyarakat dunia, justru pada saat ketika negara-negara dunia pertama dan kedua telah mengalami titik jenuh atas puncak peradabannya sendiri, maka kebutuhan untuk keluar dari ideologi uang dan politik menyubur. Suburnya kebutuhan ini ditandai dengan era berpengetahuan baru yang sama sekali berbeda dari era-era sebelumnya. Bila pijakan berpengetahuan selama hampir 4 abad diletakkan pada kekuatan pikian (rasionalitas Cartesian), maka memasuki akhir abad 20 pijakan justru bergerak di wilayah yang diabaikan oleh pikiran tersebut. Kajian akademik kemudian berpindah dari ruang utama yang selalu berkaitan dengan negara, bangsa, ideologi, politik, gerakan sosial yang selalu bisa diatur berdasarkan irama pikiran, menuju ruang hidup sehari-hari yang selama ini luput dari amatan pikiran karena dianggap bukan menjadi bagian dari ruang pengetahuan ilmiah.

Bergesernya pengetahuan dari ruang politik negara ke ruang politik keseharian, sekaligus memberi gambaran yang jelas tentang sektor-sektor terabaikan selama periode Pembangunan di negeri ini. Ketika reformasi 1998 bergulir dan secara keuangan negara lumpuh oleh hutang yang bertumpuk dan kehidupan politik yang cerai berai, tanpa mengabaikan kesulitan yang menimpa semua orang, masyarakat luas justru bertahan hidup bukan oleh kekuatan negara (baca:politik) maupun uang, tetapi oleh pertahanan yang berasal dari kekuatan sederhana yang bisa bernama kebudayaan, adat istiadat, kebiasaan, dan lain sebagainya.

Kenyataan ini bertemu dengan kenyataan pengetahuan di negara-negara dunia pertama dan kedua yang memang menyuarakan ajakan untuk melihat ruang dimana sektor-sektor tersebut ditengok ulang dan memberi makna baru tentang banyak hal. Ketidaksadaran, emosi, ingatan panjang, yang semuanya bertumbuh dalam ruang hidup sehari-hari, kemudian memberi warna baru atas cara hidup sekaligus cara berpengetahuan. Sehingga Kebudayaan, Adat Istiadat, atau Kebiasaan yang semula dipinggirkan karena dianggap bertentangan dengan prinsip kemajuan dalam ideologi Pembangunan dan Modernisasi, justru menemukan ulang gemanya pada saat krisis berlangsung sebagai pengetahuan awam sekaligus sebagai kekuatan endogen yang menyangga masyarakat. Dalam ruang untuk menerima ajakan melihat ulang ruang hidup sehari-hari inilah, teori Representasi Sosial sebagai pengetahuan awam terletak dan menjadi bagian dari peta pengetahuan yang berkembang di Indonesia.

Untuk kepentingan tersebut, maka Pusat Kajian Representasi Sosial didirikan (2005) dengan rujukan yang diberikan oleh Profesor Serge Moscovici. Pusat kajian ini berada dibawah naungan kerjasama dengan Laboratoire European de la Psychologie Sociale (LEPS), Paris-Perancis dengan induk kelembagaan pada Maison des Sciences de l''Homme (MSH), Paris-Perancis.

Adapun tujuan utama yang hendak dikembangkan oleh Pusat Kajian Representasi Sosial adalah untuk memulai tradisi penelitian yang berdasar pada kebudayaan dan hidup sehari-hari masyarakat, sebagai dua aspek utama yang menentukan pembentukan pengetahuan awam. Lebih jauh pendekatan Representasi Sosial yang sering juga disebut sebagai kajian Antropologi modern (Moscovici, 1961) juga memungkinkan kita untuk mengidentifikasi pluralitas pengetahuan yang berkembang pada masyarakat ini, yang secara sederhana tersimpan dalam budaya maupun bahasa yang tersebar di bentangan Sabang hingga Merauke.

Sejak tahun 2006 mata kuliah Representasi Sosial mulai diperkenalkan sebagai mata kuliah pilihan di jurusan Paska Sarjana Komunikasi, FISIP UI. Beberapa mahasiswa telah menyelesaikan tesis mereka dengan memakai teori ini. Tema-tema penelitian yang bersifat dasar seperti Kemiskinan, Lingkungan Hidup dan Konservasi Hutan, Islam, Pendidikan, Keluarga dan Kekerasan menjadi awal diterimanya teori ini dalam belantika ilmu sosial yang berkembang di perguruan tinggi. Beberapa kuliah umum yang bertujuan untuk memperkenalkan teori ini juga mulai dilakukan (Jurusan Paska Sarjana Sosiologi - FISIP UI, Fakultas Psikologi UGM, Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma-Yogyakarta, serta diskusi-diskusi informal yang selama ini dilakukan di Pusat Kajian Representasi Sosial, Jakarta).

Pada bulan Agustus 2008, di Bali, telah berlangsung Konferensi Internasional tentang Representasi Sosial IX dengan tema "Alternative Productions of Knowledge and Social Representations". Pusat Kajian Representasi Sosial bekerja sama dengan Departemen Susastra, Fakultas Ilmu-ilmu Budaya, Universitas Indonesia, telah menjadi tuan rumah. Konferensi ini menandai pertemuan Asia sebagai benua baru yang menerima teori ini, dengan benua-benua lain dimana teori Representasi Sosial telah berkembang. Hampir 200 peserta tercatat mewakili 28 negara dari 5 benua. Konferensi berikutnya (ICSR ke 10) akan diadakan di Tunisia, Afrika Utara.


Copyright © 2016 sr-indonesia.org