Representasi Sosial, sebuah pengantar

Teori ini berkembang dari pemikiran Serge Moscovici (Laureat Balzan Prix 2003, dan Wilhelm Wundt 2006) pada awal tahun 60an di Perancis ketika dia melihat bahwa sebenarnya masyarakat modern yang begitu rigid dan terstruktur oleh rasionalitas pengetahuan dan Negara, ternyata tetap merupakan "tambang pemikiran" tentang masyarakat yang memberi nafas dan banyak kemungkinan terciptanya pengertian baru untuk setiap anggotanya.

Tambang ini selalu akan kaya karena proses interaksi serta komunikasi anggota di dalamnya memungkinkan masyarakat itu bergerak dan selalu menghasilkan pemikiran baru tanpa harus terbelenggu pada pemikiran ilmiah, yang selama ini diasumsikan berpusat di perguruan tinggi, dalam hal ini pengetahuan, dan kemudian mewujud dalam praktek bernegara.

Proses untuk selalu membentuk dan dibentuk oleh kegiatan interaksi inilah yang kemudian melahirkan pemikiran pengetahuan bahwa seluruh dunia sosial, apapun bentuk, jenis dan skala ukurannya, sebenarnya adalah dunia yang secara sosial direpresentasikan karena dunia ini sebenarnya hanya tercipta oleh proses untuk saling membentuk dan membagi pengetahuan bersama.

Dari pandangan awal tersebut, Moscovici melalui teori Representasi Sosial telah mengubah tiga pandangan utama dalam ilmu sosial.

Pertama adalah bahwa kenyataan tidak pernah bersifat tunggal dan obyektif. Kenyataan hanyalah representasi dari apa yang pernah dipikirkan dan diolah bersama secara sosial. Implikasinya adalah bahwa kenyataan selalu bersifat sosial, dan yang sosial selalu berwatak kontekstual pada keadaan budaya dan sejarah setempat.

Kedua adalah sosial (masyarakat) yang menurut Moscovici bukan hanya sekedar kumpulan individu akan tetapi adalah sebuah dunia yang dinamis, berpola, dan akan selalu bergerak untuk mempengaruhi setiap anggotanya,

Ketiga adalah bahwa letak individu yang sebelumnya adalah sebuah entitas mutlak yang mampu menentukan arah dan tujuan bagi dirinya sendiri menjadi individu yang akan selalu lekat dengan masyarakat atau kelompoknya,

Dari tiga posisi awal tersebut teori ini mengantarkan pada kemungkinan baru untuk mempersoalkan hal paling mendasar dalam pemikiran ilmu sosial, yaitu bahwa kebenaran tidak akan pernah berwajah dan bersifat tunggal karena pada setiap tempat dengan konteks budaya dan sejarah yang berbeda akan selalu ada kebenaran yang didefinisikan dengan cara yang berbeda pula.

Karena perangkat sejarah dan budaya yang paling nyata untuk berbicara tentang kebenaran majemuk adalah bahasa, maka melalui bahasa teori Representasi Sosial telah merambah wilayah yang selama ini terabaikan.

Bahasa ternyata adalah haribaan dari setiap kenyataan karena bahasa tersebut bukan hanya berfungsi sebagai instrumen yang mengatur dan menghubungkan seluruh kode dan organisasi sosial dari setiap masyarakat.

Pada tingkat yang lebih kompleks, bahasa ternyata merekatkan setiap anggota masyarakat yang memakainya kepada tanah dimana seluruh kesejarahan dan kebudayaan bertumbuh dari setiap potongan kenyataan yang ujungnya akan membentuk pengertian kebenaran.

Berbeda dengan dengan disiplin di bidang-bidang lain di dalam ilmu sosial, maka Representasi Sosial yang semula adalah sebuah teori yang bergerak di wilayah Psikologi Sosial, dengan perangkat bahasa dan kemampuannya untuk mencari dan memahami makna, telah menjadi sebuah meta-teori yang mampu menyatukan banyak disiplin seperti psikologi, anthropologi, sosiologi, sejarah, komunikasi, dsb.

Dalam posisi ini maka Representasi Sosial kemudian membuka wilayah Representasi Sosial dari sebuah teori sederhana (pengetahuan awam) dalam Psikologi menjadi sebuah meta-teori.

Teori ini sendiri berkembang pesat di Eropa Barat dan mewarnai hampir seluruh bidang-bidang ilmu sosial lainnya antara lain Sosiologi (Bourdieu, Baudrillard, etc), Anthropologi (Chombrad de Lauwe, Michel de Certeau, etc), dan ilmu-ilmu sosial lainnya seperti Ekonomi, Politik, Seni, Bisnis, dan sebagainya.

Belahan dunia lain yang menerima dan mengembangkan teori ini adalah Amerika Selatan terutama dengan perjuangan politiknya untuk menentukan definisi atas masyarakatnya sendiri yang awalnya dimulai dari pemikiran di bidang sosiologi dan politik dalam teori Dependensi.

Sama seperti Eropa Barat, di wilayah ini teori Representasi Sosial telah merambah hampir seluruh bidang pengetahuan. Masyarakat Anglosaxon sendiri baru mengembangkan teori ini dalam 10 tahun terakhir dengan dua basis utama, Inggris dan Kanada. Australia dan Selandia Baru mulai mengemas teori ini dalam wilayah kajian yang masih terbatas dan dengan jumlah ilmuwan yang terbatas pula.

Asia adalah wilayah yang relatif sama sekali belum tersentuh oleh kajian dari teori ini. Beberapa orang mulai tertarik secara individual untuk menyentuh dan mempelajari masyarakatnya dengan teori ini seperti India, Filipina dan Indonesia, akan tetapi jumlah yang ada masih sangat kecil untuk mampu mengembangkan sebuah pemikiran sendiri seperti yang sudah terjadi di Amerika Selatan.


Copyright © 2016 sr-indonesia.org