Pusat Kajian
Representasi Sosial
Indonesia


Penelitian terbaru

Pengetahuan sebagai sebuah kemungkinan

Pengetahuan sebagai sebuah kemungkinan

Sejarah pengetahuan tentang Indonesia, tidak pernah jauh dari sejarah Indonesia modern. Artinya Indonesia hanya hadir ketika bangsa Eropa mulai menapakkan kakinya di bumi pertiwi dan kemudian merumuskan kepentingannya dengan mencoba merumuskan pengetahuan mereka tentang sebuah bangsa yang konon peradabannya telah terbentuk sejak ribuan tahun yang silam.

Dalam arti ini pengetahuan tentang Indonesia adalah pantulan atas kebutuhan bangsa Eropa ketika mereka harus berhadapan dengan sebuah peradaban manusia, dan yang harus diterima adalah bahwa peradaban tersebut harus tunduk pada kepentingan bangsa-bangsa tersebut.

Sejarah pembentukan pengetahuan tentang Indonesia dengan cara di atas berlanjut bahkan ketika bangsa asing tersebut, Belanda ataupun Jepang, telah jauh-jauh hari meninggalkan jejak kakinya dari negeri ini.

Masa panjang paska-kolonial yang kemudian ditandai dengan kebangkitan kehidupan sosial, ekonomi maupun politik atas nama Pembangunan dan Modernisasi, ternyata tetap tidak mampu membuka kemungkinan lahirnya Pengetahuan yang bertumbuh atas nama kepentingan dan kebutuhan manusia Indonesia sendiri.

Berakhirnya rezim politik Orde Baru pengusung ideologi Modernisasi pun, yang ditandai dengan semangat reformasi, ternyata tetap tidak berdaya untuk menumbuhkan kekuatan agar bisa menyusun pengetahuan keIndonesiaan, apalagi mengatur kedaulatan atas diri sendiri berdasarkan pengetahuan tersebut. Belitan hutang, campur tangan IMF untuk menyusun ulang platform kehidupan sosial-ekonomi-politik, hanyalah sebagian dari penanda yang menunjukkan bahwa kemungkinan bertumbuhnya pengetahuan dengan mengenali denyut nadi sendiri semakin menjauh.

Apalagi kebijakan Pendidikan dan Perguruan Tinggi sebagai produsen pengetahuan, sejak awal memang dijauhkan dari kemungkinan di atas karena hal-hal sbb:

  • Tradisi pengembangan pengetahuan modern melalui penelitian begitu kecil sementara seluruh pendekatan yang dipakai tetap meletakkan sebuah paradigma pemikiran modern-Barat sebagai pijakan untuk menyusun tehnik penelitian ilmiah pada bangsa dan masyarakat Indonesia yang secara kesejarahan tidak memiliki karakter yang sama dengan masyarakat dimana pendekatan tersebut lahir dan berkembang. Karena pengetahuan hanya diasumsikan bertumbuh dari norma ilmiah, maka dengan sendirinya seluruh kemungkinan untuk melihat sejarah, kebudayaan ataupun peradaban masyarakat secara keseluruhan yang berbeda dari norma ilmiah modern-Barat, akan selalu diabaikan karena tidak akan mampu mencapai norma paling dasar dari pengertian ilmiah yaitu: universal. Karena universal diletakkan sebagai nilai paling tinggi untuk merumuskan kriteria ilmiah tidaknya sebuah pengetahuan, maka tanpa pernah bisa ditolak pengetahuan lokal untuk memahami hal yang paling sederhana dari kenyataan yang paling kecil pun, jauh dari seluruh kemungkinan untuk dijamah oleh peneliti Indonesia. Artinya kalaupun ada dan lahir pengetahuan yang bertumbuh dari sebuah tradisi ilmiah, persyaratan keilmiahannya; justru menjauhkan dari kenyataan yang paling mendasar dari masyarakat Indonesia.
  • Dalam konteks tradisi keilmiahan seperti yang diuraikan di atas, maka sebagai akibatnya sebuah kesepakatan sepihak harus selalu diterima: bahwa hanya dengan meletakkan Indonesia dalam cara pandang universal yang sekali lagi harus digarisbawahi berasal dari tradisi modern-Barat, maka Indonesia baru diijinkan hadir dalam sejarah peradaban dunia. Diberlakukannya sistem Pendidikan dan Perguruan Tinggi terbaru, yang konon mengikuti sebuah kecenderungan paling mutakhir dari sistem peradaban dunia - menghapus campur tangan Negara dalam kehidupan bermasyarakat, semakin menjelaskan bahwa sejarah Indonesia tidak akan bergerak jauh dari garis yang pernah dia ikuti selama lebih dari 4 abad. Dalam perjalanan sejarah tersebut, maka Indonesia selalu berada dalam penjara sejarah peradaban modern.
  • Kebutuhan untuk merumuskan kedaulatan sendiri memang sering didengungkan oleh banyak pihak, tetapi sistem besar peradaban modern yang semakin mengukuhkan kehadirannya lewat berbagai sistem masyarakat, utamanya melalui hukum, politik, ekonomi, informasi, konsumsi atau bahkan keagamaan, memaksa Indonesia untuk akan selalu memenjarakan dirinya dalam wilayah dimana Indonesia hanyalah annexe dari sebuah ruang besar bernama Peradaban Modern.
  • Dalam konteks keterperangkapan seperti inilah, maka layak bahwa seluruh pintu kemungkinan untuk keluar dari keterperangkapan sejarah modern ini dibuka. Berharap pada kekayaan pengetahuan dari luar sebagaimana yang selama ini kita anut, telah menunjukkan hasilnya sebagaimana uraian di atas. Satu-satunya kemungkinan adalah membuka pintu pada kekayaan sejarah dan kebudayaan yang berasal dari tanah sendiri sehingga Pengetahuan tentang keIndonesiaan bukan hanya memberi kemungkinan pada banyak hal, akan tetapi juga perasaan berharga sebagai orang Indonesia.

Teori Representasi Sosial yang berkembang dengan mengambil telatah budaya dan sejarah sebagai akar epistimologisnya, adalah salah satu kemungkinan untuk membuka pintu mengembangkan Pengetahuan keIndonesiaan ketika secara konstan Indonesia harus selalu berhadapan dengan peradaban besar dunia. Dalam kerangka untuk mencari kemungkinan membuka dan merumuskan Pengetahuan dari tanah sendiri inilah, maka Pusat Kajian Representasi Sosial ini lahir.


Copyright © 2016 sr-indonesia.org