I LA GALIGO

dan sebuah pengetahuan tentang hidup sebagai mahluk Bugis


bekerja sama dengan PT.PERTAMINA - Departemen CSR untuk program produksi dan pengembangan pengetahuan lokal

I la Galigo adalah sebuah cerita tentang sebuah cara hidup, filsafat yang mendasarinya, serta nilai-nilai dasar yang menjadi tonggak masyarakat Sulawesi Selatan. Keberadaan masyarakat ini dengan cara hidupnya dieskpresikan dalam tradisi tutur dan tulis yang mereka kembangkan menjadai sastra local. Pada abad 19, dalam periode pendudukan Belanda, tradisi tutur I la Galigo disatukan untuk kemudian dituliskan dalam sebuah kumpulan naskah sepanjang 6000 halaman atau 12 jilid. Naskah ini tidak tersentuh dan nyaris dilupakan kehadirannya karena sejak pembuatannya naskah tersebut tersimpan di perpustakaan di Belanda.

Pada akhir abad 20, atas prakarsa beberapa lembaga (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan), naskah yang tersimpan di Belanda tersebut, akhirnya dibuka kembali. Sayangnya baru satu jilid yang berhasil diterjemahkan. Sisanya masih tetap tersimpan dan tidak terakses oleh masyarakat itu sendiri maupun masyarakat Indonesia lainnya. Tertutupnya akses atas naskah tersebut, tidak berarti mematikan tradisi awal tentang cara hidup yang tetap bertumbuh dan melebur menjadi kebudayaan Bugis sebagaimana yang kita kenal saat ini. Filsafat dasar ataupun nilai-nilai yang mengatur pranata hidup masyarakat Sulawesi Selatan tetap mengacu pada kebiasaan lama, sebagaimana yang dinarasikan oleh I la Galigo.

Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Kajian Representasi Sosial ini bertujuan untuk melihat bagaimana endapan I la Galigo tersimpan dalam pranata hidup masyarakat Sulawesi Selatan. Kenyataan yang tidak bisa dipungkiri adalah bahwa I la Galigo bertemu dengan banyak arus dari luar seperti penjajahan, proses modernisasi  paska kemerdekaan, Islam, dan arus global yang datang lewat media, informasi ataupun pengetahuan lainnya. Dalam kompleksitas seluruh pertemuan arus yang ada tersebut, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat pengetahuan yang tersimpan dalam endapan masyarakat tersebut dan bagaimana pengetahuan itu mewujud menjadi nalar sosial sekaligus identitas yang membentuk masyarakat Sulawesi Selatan.


Kosmologi, Rumah dan Perempuan


Penitian tahun pertama di Sulawesi Selatan bekerjasama dengan PT.PERTAMINA - Departemen CSR

Kosmologi dasar masyarakat Sulawesi Selatan mengacu pada To Manurung, yaitu kepercayaan tentang pembentukan alam semesta dan dihadirkannya manusia pertama pada alam tersebut. Konon dunia terbagi atas tiga lapis. Dunia atas berada di langit dan diyakini sebagai tempat bersemayam para dewata, kemudian dunia tengah adalah tempat dimana seluruh mahluk hidup termasuk di dalamnya manusia hewan dan tumbuhan hidup, serta dunia bawah yaitu tempat kehidupan yang menampung seluruh mahluk yang berhubungan dengan air. Ketiga dunia tersebut tidak bersifat hierarkis, selalu berhubungan, dan menjadi acuan ruang bagi masyarakat setempat.

Rumah panggung Bugis mempertahankan pembagian tiga dunia tersebut, dan setiap orang belajar tentang peran dan tanggungjawabnya dalam masyarakat berdasarkan prinsip gerak yang tetap terjaga dari kosmologi To Manurung yang diajarkan secara turun menurun dari rumah. Adalah Perempuan, mahluk yang dipercaya menjaga kesetiaan pada kosmologi tiga dunia dengan mewariskan ingatan tentang sakralitas To Manurung yang diajarkan dalam pendidikan yang bermula dari rumah

 

Aksara dan Pewarisan Ingatan


Penitian tahun pertama di Sulawesi Selatan bekerjasama dengan PT.PERTAMINA - Departemen CSR

Konon peradaban besar selalu bermula dari aksara. Maka ketika sebuah masyarakat mewariskan ingatan kepada anggotanya melalui aksara, kita sepakat untuk menerima sebuah cerita tentang kebesaran masa silam yang jejaknya selalu tersimpan dalam banyak hal.  Aksara Bugis dan Makassar yang dipakai untuk mencatat jejak masyarakat Sulawesi Selatan,  mungkin tidak lagi berdengung menjadi sebuah ingatan besar tentang pengetahuan dan peradaban yang dimiliki oleh bangsa ini. Akan tetapi jejak yang ditinggalkan oleh aksara tersebut pada tradisi tulis dan tradisi lisan, ternyata tetap tersimpan dengan baik dalam banyaksegi kehidupan yang menjadi peralatan pengetahuan paling dasar untuk menjadi anggota masyarakat. 

Dalam ruang dan waktu yang bergerak tanpa henti, aksara dan bahasa lain datang dan bertemu dengan aksara awal yang sudah ada. Pertemuan ini tidak berarti tradisi tulis dan lisan tersebut berhenti. Dalam pertemuan dengan arus yang bergerak dari luar inilah, sebuah pergeseran terjadi. Bila sebelumnya seluruh gerak tercatat dan diwariskan menjadi ingatan bersama, apa yang bisa dicatat dari pergeseran yang saat ini sedang berlangsung?

 

Merantau


Penitian tahun pertama di Sulawesi Selatan bekerjasama dengan PT.PERTAMINA - Departemen CSR

Masyarakat yang berasal dari daerah Sulawesi Selatan adalah suku bangsa yang dianggap sebagai perantau ulung untuk negeri ini. Pada tahun 1971 tercatat lebih dari dua ratus empat puluh ribu orang Sulawesi Selatan yang meninggalkan kampong halamannya dan memutuskan merantau. Jumlah tersebut selalu menunjukkan peningkatan setiap tahun. Hingga tahun 2005, kembali BPS mencatat bahwa jumlah perantau yang secara permanen telah meninggalkan tanah Sulawesi mencapai jumlah satu juta jiwa atau hamper dua belas setengah persen dari jumlah populasi total.

Tradisi bahari adalah sebuah naluri awal yang dianggap sebagai pemicu alasan merantau. Akan tetapi tata social masyarakat setempat ternyata adalah naluri lain yang jauh lebih besar kekuatannya untuk mendorong warga keluar dan menyabung peruntungan di seberang. Maka merantau menjadi sebuah representasi untuk melihat kompleksitas masyarakat ini di hadapan tradisi dan tuntutan pranata social yang setiap saat tidak selalu mudah untuk ditawar

 

Tradisi Bahari


Penitian tahun pertama di Sulawesi Selatan bekerjasama dengan PT.PERTAMINA - Departemen CSR

Laut adalah bagian dari dunia bawah yang berhubungan dengan air dan menghubungkan mereka dengan dunia tengah dimana seluruh mahluk hidup, sekaligus dengan langit dan dewata yang berada di dunia atas. Hubungan laut dengan dunia nyata sudah tercatat dalam epic I la Galigo yang menceritakan perjalanan Sawerigading mengarungi samudera dan menaklukan belantara kehidupan. Laut kemudian adalah bagian dari dunia kosmologi masyarakat Sulawesi Selatan yang akan selalu tak terpisahkan dari kehidupan nyata yang mereka jalani.

Hubungan paling nyata antara manusia Sulawesi Selatan dan laut terwujud dalam naluri berlayar dan merantau, yang secara turun menurun dilakukan dengan kapal. Di sebuah semenanjung yang menyimpan ingatan tua tentang bagaimana naluri tersebut bermula, maka sebuah pengetahuan perkapalan bertumbuh. Laut, Phinisi dan manusia Bugis kemudian menjadi sebuah latar social yang tercatat dalam peta pengetahuan kelautan yang dimiliki oleh negeri ini tentang sebuah tradisi tua yang nyaris terpunahkan. Waktu yang bergerak begitu cepat dan mengubah banyak hal dari hidup nyata, apakah masih member kesempatan kepada kita untuk melemparkan jangkar dan menyelamatkan tradisi tua yang mungkin lagi tak akan pernah tersampaikan pada generasi yang akan datang?

 

Copyright © 2016 sr-indonesia.org